id.wikipedia.org

Simbol Perlawanan Sultan Hasanuddin dan rakyat Gowa ketika melawan penindasan kaum penjajah di bumi Makassar

Sedikit keluar dari keriuhan kota, di wilayah Kec. Somba Opu, Kab. Gowa, juga terdapat sebuah situs yang bernilai historis. Benteng Somba Opu, demikian nama situs tersebut, merupakan sisa dari Benteng Kerajaan Gowa.

Benteng ini juga menjadi saksi bisu kegigihan perlawanan Sultan Hasanuddin dan rakyat Gowa ketika melawan penindasan kaum penjajah di bumi Makassar. Karenanya, Benteng ini pun menjadi simbol perlawanan dan harga diri Kerajaan Gowa.

Menurut catatan yang ada, Benteng Somba Opu ditemukan sejumlah ilmuwan sekitar tahun 1980-an. Benteng ini dibangun oleh Sultan Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna pada tahun 1525. Benteng berbentuk segi empat ini memiliki luas sekitar 1.500 hektar dan dilindungi oleh dinding sepanjang 2 kilometer dengan ketinggian 7 sampai 8 meter. Meski terbuat dari tanah liat dan putih telur sebagai perekat material yang digunakan, dinding benteng ini masih berdiri tegak sampai detik ini.

Pada abad ke-16 kawasan Benteng Somba Opu menjadi pusat perdagangan sekaligus pelabuhan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa. Tetapi, pada Tahun 1669 benteng ini dikuasai oleh VOC dan kemudian dihancurkan hingga terendam ombak laut.

id.wikipedia.org
id.wikipedia.org

Bila diperhatikan, ada beberapa bagian di dinding Benteng Somba Opu yang tak lagi sempurna. Kabarnya, hal itu diakibatkan oleh hantaman 30.000 peluru meriam VOC yang dilontarkan dari lautan, ketika melakukan serangan ke benteng ini.

Pada tahun 1990 benteng ini telah direkonstruksi sehingga terlihat lebih baik lagi. Pada saat ini pun Benteng Somba Opu telah menjadi sebuah objek wisata bersejarah dan Cagar Budaya karena di dalamnya terdapat beberapa bangunan rumah adat Sulawesi Selatan. Disamping telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya, kawasan Benteng Somba Opu kini juga difungsikan sebagai pusat budaya Sulawesi Selatan.

Laiknya di Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta, pengunjung dapat menjumpai sejumlah rumah adat milik sejumlah etnis yang ada di Sulawesi Selatan. Benteng Somba Opu juga menjadi perwakilan suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Tidak hanya itu saja, tempat ini juga memiliki sebuah meriam dengan panjang 9 meter dan berat sekitar 9.500 kilogram, serta ada sebuah museum yang berisi benda- benda bersejarah peninggalan Kesultanan Gowa.

Sebagian benda-benda arkeologi seperti Berbagai motif batu seperti motif lingkaran, tumpal, garis, geometris, pilin berganda dan garis mender lengkung, dan juga Peta Benteng Somba Opu serta beberapa bola meriam yang pernah dilontarkan Belanda saat membombardir Benteng Somba Opu dalam perang Makassar masih tersimpan di Museum Makassar.

TIDAK ADA KOMENTAR