Di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto inilah Gapura Bajang Ratu sebagai sisa reruntuhan Kerajaan Majapahit terjaga dan terawat dengan baik. Bahkan, dari jalan yang jaraknya kurang lebih 100 meter, gapura ini tampak mempesona.

Dengan tinggi bangunan sekitar 16,5 meter, gapura ini  memberikan sebuah gambaran dan lamunan bahwa Kerajaan Majapahit dahulu adalah benar-benar sebuah kerajaan yang sangat besar serta memiliki peradaban yang sudah sangat tinggi. Padahal, ini adalah sebagaian kecil dari bangunan Kerajaan Majapahit yang diperkirakan bahwa gapura Bajang Ratu adalah bagian dari tempat keluar dari sisi belakang keraton. Jika gapura bagian belakang saja sudah sebesar ini, sebesar apakah bangunan ini secara keseluruhan pada waktu itu?

WP_20140725_199

Gapura ini terbuat dari perpaduan batu bata merah dan batu andesit yang terpasang di lantai tangga serta bagian ambang pintu. Dengan arsitektur cerdas yang sangat rumit serta tingkat presisi yang sangat akurat, Gapura ini juga dihiasi oleh relief-relief. Relief pada bagian kaki gapura terdapat hiasan panil yang menggambarkan cerita “Sri Tanjung” sedangkan dibagian tubuh gapura terdapat ambang pintu yang di atasnya terdapat relief berbentuk kala dengan hiasan sulur-suluran. Sedangkan bagian atapnya terdapat relief berupa kepala kala diapit singa, relief matahari, naga berkaki, kepala garuda dan relief bermata satu. Relief-relief ini dipercaya mempunyai fungsi sebagai pelindung atau penolak marabahaya. Pada bagian lainnya terdapat relief cerita Ramayana yang digambarkan dengan perkelahian raksasa melawan kera serta bingkai kanan kiri pintu diberi pahatan berupa binatang bertelinga panjang yang sampai saat ini belum diketahui jenis binatang tersebut, kemungkinan binatang tersebut ada dalam zaman Kerajaan Majapahit atau bisa jadi hasil kreatif imajinasi pembuatan pahatan pada masa itu.

WP_20140725_211

Menurut catatan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Mojokerto, Gapura Bajangratu ini diduga berfungsi sebagai pintu masuk bagi bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara. Dalam catatan Negarakertagama, Jayanegara kembali ke dunia Wisnu atau meninggal dunia pada tahun 1250 Saka (sekitar tahun 1328 Masehi). Dugaan ini didukung oleh adanya relief Sri Tanjung dan Sayap Garuda yang mempunyai arti sebagai lambang pelepasan.

Gapura ini diberi nama Bajang Ratu sebagai sebutan Jayanegara yang juga raja Majapahit kedua. Jayanegara diperkirakan diangkat sebagai raja saat masih kecil. Bajang berarti kecil, sehingga, dia disebut Ratu Bajang atau Bajang Ratu yang berarti Raja Kecil. Sehingga, gapura tempat dharma Jayanegara itu diberi nama Bajang Ratu.

Dengan tinggi 16,5 meter, panjang 11,5 meter, dan lebar 10,5 meter, betapa Gapura Bajang Ratu sudah memberikan betapa tinggi peradapan Kerajaan Majapahit pada waktu itu. Berkat arsitekturnya yang artistik tidak termakan oleh zaman sehinga memengaruhi arsitektur Jawa dan Bali hingga sekarang. Inilah salah satu bukti kebesaran Kerajaan Majapahit sehingga reruntuhan Gapura Bajang Ratu menjadi salah satu peninggalan kebudayaan besar yang harus dijaga dan dikembangkan.

TIDAK ADA KOMENTAR