Gerhana matahari merupakan fenomena alam yang menyimpan begitu banyak misteri. Bahkan hingga kini masih ada satu misteri yang belum terpecahkan. Misteri terkait fenomena gerhana matahari ini berawal pada tahun 1954 yang hingga kini masih menjadi kontroversi para ilmuwan. Menyambut gerhana matahari total 2016 yang akan hadir pada tanggal 9 Maret, Obsevatorium Bosscha telah membuat sebuah alat terbaru yaitu pendulum bersensor.

BERAWAL DARI GERAK PENDULUM TEMUAN MAURICE ALLAINS

Perangkat bernama pendulum telah sengaja dibuat oleh Bosscha. Pembuatan pendulum itu berawal dari misteri gerakan pendulum yang mengalami keanehan ketika gerhana matahari total terjadi. Fenomena aneh ini membuat para ilmuwan bertanya-tanya dan belum terpecahkan hingga detik ini setelah setengah abad lebih berlalu. Keanehan ini muncul ketika seorang ilmuwan Perancis, Maurice Allais yang menjumpai ayunan pendulum mengalami perubahan besar ketika terjadi gerhana matahari total, tepatnya pada tanggal 30 Juni 1954.

Pendulum tersebut bergerak berlawanan dengan arah jarum jam dengan kecepatan 13,5 derajat per menit ketika terjadi gerhana matahari total di Paris waktu itu dan kembali normal ketika gerhana usai. Jika pada keadaan normal pendulum tersebut akan bergerak normal searah jarum jam dengan kecepatan 0,19 derajat per menit sehubungan dengan adanya perputaran bumi pada porosnya (rotasi bumi).

Keanehan tersebut kembali terulang ketika terjadi gerhana matahari pada 2 Oktober 1959 di Perancis. Maurice Allais melihat keanehan gerak pendulum seperti yang dia lihat lima tahun sebelumnya saat terjadi gerhana matahari total. Fenomena pada pendulum saat gerhana matahari terjadi ini belum juga diketahui penyebabnya oleh Allais. Sehingga misteri ini disebut sebagai Allais effect.

Terkait dengan Allais effect tersebut sudah banyak ilmuwan yang melakukan uji coba ulang mengenai fenomena gerhana matahari pada gerakan pendulum. Namun hasilnya sama, belum ada keterangan mengenai hal tersebut, adakah hubungannya antara gerhana matahari dengan keanehan pendulum. Seorang ilmuwan GT Jeverden juga melakukan pengamatan atas Allais effect pada saat terjadi gerhana matahari 15 Februari 1962 di Rumania. Dari hasil pengamatan yang didapatkan GT Jeverden tersebut terjadi perlambatan gerak pendulum menjadi seper 2000 ketika gerhana. Namun hasil observasi ilmuwan tersebut tidak dipublikasikan.

DUA PENDULUM BERSENSOR BUATAN BOSSCHA

Hasil penelitian para ilmuan atas Allains effect tersebut masih menjadi kontroversi karena hasil analisis yang berbeda-beda. Sehingga hal ini menimbulkan rasa penasaran para ilmuwan Indonesia di Obsevatorium Bosscha untuk turut melakukan uji coba. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh seorang peneliti Bosscha, Taufiq Hidayat yang dikutip oleh Temponews bahwa mereka akan membuat dua pendulum bersensor yang akan dipasang di observatorium Bosscha dan di tempat pengamatan gerhana matahari total 2016 di Poso, Sulawesi Tengah.

Namun berdasarkan keterangan Taufiq Hidayat, dibuatnya pendulum bersensor itu bukan untuk menemukan penyebab terjadinyan kekacuan pendulum ketika terjadi gerhana matahari seperti yang telah dikemukakan Allains. Namun pendulum bersensor itu akan digunakan untuk mendapatkan hasil dan data temuan yang akan terjadi nanti ketika gerhana matahari bulan Maret. Hasil temuan tersebut rencananya akan ditulis dalam jurnal ilmiah.

Gerhana matahari total 2016 yang akan terlihat di 11 wilayah Indonesia menjadi suatu peluang menarik untuk membongkar misteri besar dalam ilmu pengetahuan terkait gerakan pendulum yang kacau ketika gerhana matahari terjadi. Bahkan tak hanya ilmuwan Indonesia yang akan melakukan penelitian, para peneliti luar negeri akan berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk melakukan penelitian akan gerhana matahari total yang akan terjadi 9 Maret 2016 mendatang.

TIDAK ADA KOMENTAR