JAKARTA – Keberhasilan Indonesia menempati peringkat 2 Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018, disambut gembira. Terutama oleh Ketua Tim Percepatan dan Pengembangan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata, Riyanto Sofyan. Peringkat Indonesia diyakini akan lebih baik jika mampu mempertahankan momentum pengembangan pariwisata halal.

Seperti Menteri Pariwisata, Riyato Sofyan juga optimistis Indonesia menjadi nomor destinasi pariwisata halal dunia tahun 2019. Terlebih, pembenahan disegala aspek pariwisata sudah dilakukan. Menurutnya, keberhasilan Indonesia menempati peringkat 2 GMTI tidak terlepas dari pembenahan tersebut.

“Karena kita lihat antusiasme industri wisata untuk mengembangkan pariwisata halal, kita bisa lebih cepat (naik peringkat),” jelas Riyanto, Kamis (12/4).

Menurutnya, jika Indonesia mempertahankan momentum pengembangan pariwisata halal yang telah berjalan, maka peringkat satu GMTI bisa lebih cepat diraih. Sofyan menegaskan, perbaikan aspek-aspek seperti atraksi, amenitas, dan akses mesti ditingkatkan. Hal itu untuk mendorong percepatan pariwisata halal di Indonesia.

“Negara-negara seperti Malaysia, Turki, Singapura, dan Thailand itu kekuatannya adalah masalah sertifikasi. Lebih kuat branding-nya. Kalau kita kan baru-baru saja promosi dan pemasarannya, semenjak Pak Arief Yahya menjabat. Infrastruktur berupa akses juga kurang. Kalau untuk keamanan lebih aman kita. Turki dan Malaysia itu ada gejala politiknya. Jadi saya optimistis bisa naik asal peningkatan pariwisata halal tadi kita kembangkan,” tuturnya.

Menurut Riyanto, ada cara yang harus dilakukan Indonesia melalui Kementerian Pariwisata untuk meningkatkan peringkat halal. Diantaranya mengikuti penghargaan-penghargaan kelas dunia seperti World Halal Tourism Award.

Selain itu juga melakukan familirization trip, sales mission, dan aneka kegiatan pemasaran. Sofyan menyatakan prestasi ini merupakan hasil dari sinergi antara pentahelix stakeholder.

“Sejak tahun 2016 sudah ada 2,7 juta wisman. Dan hingga saat ini ada peningkatan hingga 17% tiap tahun,” kata Riyanto Sofyan.

Menurutnya, mayoritas terbesar wisatawan muslim masih berasal dari Asia. Tepatnya Malaysia dan Singapura. Jumlahnya mencapai 30-40 persen. Atau sekitar 1,1 juta orang. Sedangkan wisman Timur Tengah masih relatif kecil yaitu sekitar 240 ribu. Untuk wisman asal Eropa, masih berkisar di angka 400 ribuan.

“Saat ini memang ada insentif dari pemerintah. Yaitu sekitar 15 dolar sampai 25 dolar per turis. Tapi yang paling utama adalah mempersiapkan destinasi yang cocok dengan keinginan wisman. Karena preferensi masing-masing pengunjung berbeda,” ujar dia.

Dia mencontohkan, wisman asal Timur Tengah lebih menyukai alam, baik pantai maupun gunung, spa dan shopping. Turis Eropa tertarik dengan sightseeing dan heritage juga adventure. Sementara Asia lebih suka yang bersifat religi.

Untuk 2018, Tim Percepatan dan Pengembangan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata sudah menyiapkan paket-paket wisata halal unggulan. Berikut dengan even-even yang bisa menjadi daya tarik wisman untuk berkunjung ke Indonesia. Termasuk paket unggulan yang akan dipromosikan bersama even lain.

“Misalnya Masjid Islamic Centre di Lombok. Paling tidak, jika belum menjadi atraksi tapi bisa menjadi amenitas dalam satu destinasi,” kata Sofyan.

Dia menegaskan pentingnya standarisasi pengelolaan dari objek destinasi dan manajemen objek untuk mencapai target wisata halal. Hal tersebut, jelasnya, untuk mencapai target yang diberikan pemerintah dalam meningkatkan sumbangan pariwisata halal pada pertumbuhan ekonomi.

“Penting sekali kerjasama antar stakeholder dan didukung oleh komitmen dalam mematuhi standarisasi pengelolaan dan manajemen objek wisata,” pungkasnya.

Diketahui, Indonesia berhasil naik ke peringkat II Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018 yang merupakan salah satu indeks paling komprehensif untuk mengukur kualitas dan kuantitas Wisata Hala di berbagai negara.

Prestasi itu diterima Menteri Pariwisata Arief Yahya, dalam acara launching Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018 yang diselenggarakan di Hotel Pullman Jakarta.

Dalam launching tersebut Menteri Arief Yahya menerima Sertifikat Penghargaan Ranking ke-2 GMTI oleh CEO CrescentRating, Fazal Bahardeen. Sementara posisi pertama Index GMTI 2018 diraih oleh Malaysia.

“Kita akan mengalahkan Malaysia pada GMTI 2019 nanti, Indonesia akan ada di peringkat pertama,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya.