Beranda Nusantara Aktivis: Penegak Hukum Harus Menyelidiki Secara Teliti Kematian Bayi Gajah di Aceh

Aktivis: Penegak Hukum Harus Menyelidiki Secara Teliti Kematian Bayi Gajah di Aceh

Kematian bayi gajah harus diselidiki secara menyeluruh untuk menemukan pelakunya yang menarik jerat.

Gang Aceh (ANTARA) – Aktivis lingkungan meminta penegak hukum mengusut tuntas kematian anak gajah sumatera ((Elephas maximus sumatranus) akibat infeksi setelah belalainya dipotong dari jebakan di Aceh.

“Kematian bayi gajah itu harus diusut tuntas agar pelaku yang menarik jerat bisa ditemukan,” kata Nurul Ihsan, aktivis lingkungan, di Banda Aceh, Jumat.

Nurul Ihsan yang juga Koordinator Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Hidup (HAkA) Aceh mengatakan, penyidikan secara menyeluruh memberikan efek jera agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya.

Selain itu, orang lain melakukannya secara berbeda. “Dan ini juga diperlukan untuk konservasi satwa yang dilindungi di Aceh. Apalagi satwa yang dilindungi seperti gajah terancam punah di alam,” kata Nurul Ihsan.

Seekor bayi gajah sumatera sebelumnya mati saat menjalani perawatan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Sari di wilayah Aceh Besar. Anak sapi tersebut sebelumnya dievakuasi dari Kabupaten Aceh Jaya karena sakit setelah batangnya patah saat terjebak.

Menurut Nurul Ihsan, kematian satwa dilindungi yang terjerat jerat kerap terjadi di Aceh. Sebelum kedatangan bayi gajah tersebut, di Kabupaten Aceh Selatan juga terdapat tiga ekor harimau sumatera, satu ekor induk dan dua ekor anak gajah mati dijebak.

“Jadi, kasus seperti itu sering terjadi di Aceh. Oleh karena itu, kami meminta kepada instansi terkait untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan menangkap serta menghukum para pelakunya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada aparat penegak hukum yang mengusut kematian gajah di beberapa kabupaten di Aceh. Termasuk penangkapan pelaku perdagangan kulit harimau di Aceh Tengah.

“Kami menghargai penegakan hukum terkait pembunuhan gajah. Ada dua kasus pembunuhan gajah, di Aceh Timur saat persidangan dan di Aceh Jaya, yang akan dipertimbangkan dalam waktu dekat,” kata Nurul Ihsan.

Sebelumnya, Kepala Badan Perlindungan Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh, Agus Arianto, mengimbau masyarakat tidak memasang perangkap atau racun di kawasan hutan karena mengancam kelestarian satwa yang dilindungi.

Pemasangan jerat dan racun dapat menyebabkan kematian satwa yang dilindungi. Mereka yang bertanggung jawab atas kematian satwa yang dilindungi dapat dituntut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Agus Arianto.

Ia mengatakan, kematian satwa yang dilindungi itu merupakan kabar duka. Oleh karena itu, pihaknya mengajak masyarakat untuk bersama-sama melestarikan alam, khususnya satwa liar seperti gajah dan lainnya.

“Triknya bukan dengan merusak hutan dan memasang jebakan atau racun. Dan ini bukan tentang menangkap, melukai, membunuh atau menjual bagian tubuh hewan yang dilindungi. Satwa yang dilindungi ini berisiko tinggi mengalami kepunahan di alam liar,” kata Agus Arianto.

Artikel sebelumyaPresiden buka seksi I Tol Serang-Panimbang
Artikel berikutnyaMabes Polri kirim helikopter untuk lawan illegal logging di Riau