Beranda Nusantara BKSDA Bali menelusuri asal-usul owa peliharaan bupati Badung

BKSDA Bali menelusuri asal-usul owa peliharaan bupati Badung

Denpasar (ANTARA) – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali menelusuri asal-usul owa peliharaan Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta. S BKSDA.

“Apakah di luar atau di dalam Bali, masih akan kami pelajari lebih lanjut,” kata Kepala BKSDA Bali Agus Budi Santosa di Denpasar, Bali, Rabu.

Agus mengatakan, jika owa tersebut bersumber dari luar Bali, maka ia dapat memastikan bahwa hewan tersebut diselundupkan.

“Kalau masuk Bali itu ilegal, kalau legal saya tahu pasti, karena dia ada di sini, yang ditegaskan dengan Surat Angkutan Tumbuhan dan Satwa (SATS), dan tidak mungkin untuk instansi lain, itu pasti BKSDA Bali.

“Tapi apakah dia dari luar Bali atau sudah lahir di Bali, sekarang akan dikonfirmasi,” tambahnya.

Dia menyatakan owa bukan endemik Bali dan owa tidak hidup di alam liar di kawasan Bali.

“Saya bisa memastikan bahwa hewan ini bukan dari Bali,” katanya.

Agus mengatakan, BKSDA masih mengkaji legalitas kepemilikan owa siamanga yang dimiliki Bupati Badung dan bagaimana hewan tersebut diperoleh.

“Kalau soal legalitas memiliki satwa liar yang dilindungi, ada yang boleh dan tidak boleh, yang dibolehkan kalau keluar penangkaran sudah ada izinnya. Diperoleh secara legal, ”katanya.

Menurutnya, di Bali tidak ada tempat berkembang biak owa. Lokasi penangkapan monyet hitam berlengan panjang ada di Sumatera.

Dia menegaskan, kepemilikan dan pemeliharaan satwa dilindungi memiliki implikasi hukum.

“Semua perbuatan itu ada akibat hukumnya, hukumnya seperti apa, saat ini belum bisa dijelaskan. Kami akan pelajari lebih lanjut,” ujarnya.

“Sanksi mengacu pada aturan yang ada, bentuk sanksinya tergantung pada konsekuensi yang ada. Itu tergantung kapan situasinya membaik, ”tambahnya.

Sebelumnya beredar video di jejaring sosial dimana sutradara Badung Bali I Nyoman Giri Prasta memperagakan siamang peliharaannya yang bernama Mimi.

Bupati Badung menyumbangkan hewan BKSDA untuk dilepasliarkan ke habitat aslinya setelah rekaman owa-owa viral di media sosial.

Owa merupakan satwa yang dilindungi sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor .p.20. / MENLHK / SETJEN / KUM. 06.01.2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

Artikel sebelumyaBMKG Banjarnegara Peringatkan Warga Akan Meningkatnya Curah Hujan
Artikel berikutnyaFoto minggu kedua September 2021