Beranda Nusantara BNPB menginformasikan bahwa luas kebakaran hutan dan lahan untuk Januari-Juni meningkat 16,3...

BNPB menginformasikan bahwa luas kebakaran hutan dan lahan untuk Januari-Juni meningkat 16,3 persen.

Lahan mineral yang habis terbakar mendominasi areal yang terbakar pada periode 1 Januari hingga 30 Juni 2021 – 33.313 hektar, sisanya rawa gambut.

Jakarta (ANTARA) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada Januari-Juni 2021 meningkat 8.597 hektar atau 16,3 persen dibandingkan periode yang sama 2020.

“Luas kebakaran hutan dan lahan selama periode ini melebihi luas kebakaran hutan dan lahan pada periode yang sama tahun 2020,” kata Plt. Deputi Pencegahan Harmensakh BNPB dalam keterangan tertulisnya, Sabtu.

Menurut Badan Pengawasan Kebakaran Hutan dan Kebakaran, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), akumulasi sementara kawasan Karhutla mulai 1 Januari hingga 30 Juni 2021 seluas 52.479 hektar.

Lahan mineral yang habis terbakar mendominasi areal yang terbakar pada periode 1 Januari hingga 30 Juni 2021 – 33.313 hektar, sisanya rawa gambut.

Lima wilayah tertinggi yang teridentifikasi kebakaran hutan dan lahan di lahan mineral berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur seluas 13.131 ha, Nusa Tenggara Barat 5.762 ha, Kalimantan Barat 3.174 ha, Kepulauan Riau 1.490 ha dan Papua 1.428 ha.

Sedangkan lima luas kebakaran hutan dan lahan di lahan gambut tertinggi berada di Kalimantan Barat dengan luas 11.570 ha, Riau 6.156 ha, Kalimantan Tengah 530 ha, Aceh 304 ha dan Sumatera Utara 286 ha.

Pada periode Juni 2021, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendaftarkan penghitungan ulang sementara luasan kebakaran hutan dan lahan sejak 1 sampai dengan 30 Juni 2021 di atas lahan seluas 17.661 hektar, dengan rincian deskripsi lahan dan kebakaran hutan. di atas lahan mineral seluas 17.375 hektar dan gambut seluas 286 hektar.

BNPB sebelumnya meminta BNPB melakukan delapan langkah strategis untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan. Antara lain, BPBD diminta untuk melakukan pemantauan dan peninjauan lapangan dengan instansi terkait untuk mengantisipasi dan mengelola kekeringan dan potensi kebakaran hutan dan lahan.

Kedua, BPBD segera mengambil langkah untuk memperkuat kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat terhadap ancaman kekeringan di wilayahnya masing-masing, termasuk menyiapkan logistik dan peralatan seperti waduk air bersih, menyediakan pompa air di setiap sub-wilayah, dan mengidentifikasi wilayah prioritas yang terkena dampak kekeringan.

“Melakukan kampanye hemat air dengan memanen air hujan dan menggunakan air limbah domestik yang relatif bersih untuk digunakan kembali,” kata Harmensiach.

Ketiga, BPBD mengambil langkah untuk memperkuat kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya masing-masing. Kesiapsiagaan dapat dicapai melalui pemantauan dengan sistem peringatan dini terkait dengan kebakaran hutan dan lahan yang sudah ada sebelumnya seperti Sipalaga, Lapan Hot Spot dan Karhutla Warning System.

“Segera perbaiki jika ada titik lemah atau kerusakan pada instrumen tersebut,” ujarnya.

Artikel sebelumyaBNPB meminta BPBD melakukan delapan langkah strategis untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan
Artikel berikutnyaWill Mara menyarankan untuk keluar dari hubungan beracun melalui "Detoks"