Beranda Nusantara BPBD mencatat 24 kecamatan di Kabupaten Bandung rawan longsor

BPBD mencatat 24 kecamatan di Kabupaten Bandung rawan longsor

masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan atau di tepi sungai, untuk meningkatkan kewaspadaan

Bandung (ANTARA) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mencatat ada 24 kabupaten yang berpotensi longsor pada musim hujan akhir tahun 2021.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Hendra Hidayat mengatakan, hal itu tercatat berdasarkan analisis yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terhadap prakiraan kondisi cuaca ekstrem di wilayah Bandung. BPBD kini telah menetapkan status tanggap darurat.

“Artinya, masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan atau bantaran sungai perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi,” kata Hendra di Bandung, Jawa Barat, Rabu.

Hendra menjelaskan, 24 kecamatan tersebut adalah Arjasari, Balienda, Banjaran, Changkuang, Chikalenka, Chikanchung, Chilengkrang, Chileuni, Chimaung, Chimenyan, Chiparay, Chividay, Ibun, Kertasari, Kecamatan Kutavaringin dan Margaasi.

Kemudian kabupaten Nagreg, Paset, Pamengpeuk, Pangalengan, Paseh, Pasirjambu, Rankabali dan Soreang. Dari 24 kecamatan, BNBR telah mendaftarkan 124 desa yang bisa menjadi pusat bencana longsor.

Pihaknya mengirimkan peringatan ke setiap kecamatan dan mengirimkannya ke setiap desa.

Selain tanah longsor, banjir bandang juga harus diantisipasi pada musim hujan ini, karena banjir bandang juga bisa terjadi seiring dengan meningkatnya curah hujan, katanya.

“Masyarakat di bantaran sungai juga perlu berhati-hati karena longsor juga bisa menyebabkan banjir bandang karena menyumbat sungai,” katanya.

Oleh karena itu, ia meminta masyarakat untuk berkomunikasi secara intensif dengan BPBD dan melakukan tindakan pencegahan. Misalnya, masyarakat dapat menganalisis kemungkinan longsor jika ada retakan di tanah, atau menghilangkan sumbatan di sungai untuk meminimalkan kemungkinan banjir bandang.

“Karena kalau bisa diprediksi banjir biasanya terjadi saat hujan, misalnya di Kertasari, dua atau tiga jam setelah itu banjir terjadi di Balinda atau Bojonsoang, jadi harus diwaspadai longsor dan banjir bandang,” ujarnya. dikatakan.

Artikel sebelumyaGubernur Benkulu minta ESDM pertimbangkan kembali izin penambangan untuk habitat gajah
Artikel berikutnyaBKSDA Sumsel Kirim Tiga Gajah ke Jambi