Beranda Warganet Harimau sumatera mengunjungi perkebunan rakyat di Aceh

Harimau sumatera mengunjungi perkebunan rakyat di Aceh

Banda Aceh (ANTARA) – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) melaporkan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) masuk ke perkebunan warga di Kecamatan Seulikat, Kabupaten Bakongan Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh.

“Harimau itu dilaporkan masuk ke perkebunan warga yang hanya berjarak dua kilometer dari pemukiman warga,” kata Kepala Seksi II BKSDA Subulusalam Aceh Hadi Sofyan di Aceh Selatan, Minggu.

Hadi Sofyan mengatakan, masyarakat melaporkan harimau masuk ke perkebunan pada Sabtu (9.10 WIB). Menurut laporan, tim BKSDA langsung meluncur ke lokasi.

“Warga yang melihat harimau itu akan meninggalkan kebun mereka. Warga ketakutan dan meninggalkan sepeda motor mereka di tempat ini. Pemiliknya meninggalkan empat sepeda motor,” kata Hadi Sofyan.

Sisa sepeda motor dievakuasi setelah tim BKSDA mengusir satwa yang dilindungi itu dengan petasan, kata Hadi Sofyan.

Hadi Sofyan meminta masyarakat untuk tidak mendekati perkebunan tempat ditemukannya harimau tersebut, karena belum diketahui keadaannya.

“Tim BKSDA Aceh masih di tempat berusaha mengembalikan harimau ke hutan. Semoga harimau menjauh dari perkebunan sehingga warga bisa beraktivitas sehari-hari di kebunnya,” kata Hadi Sofyan.

Harimau sumatera merupakan satwa liar yang dilindungi sesuai dengan peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Menurut daftar hewan langka International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), hewan yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus sebagai spesies terancam punah dengan risiko kepunahan yang tinggi di alam liar. .

BKSDA Aceh mengajak masyarakat untuk bahu-membahu mendukung pelestarian khususnya harimau sumatera, tanpa merusak hutan yang menjadi habitat berbagai jenis satwa.

Dan tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, menyimpan, menampung, mengangkut atau memperdagangkan satwa yang dilindungi hidup atau mati.

Kemudian jangan memasang jerat, racun, pagar listrik bertegangan tinggi, yang dapat menyebabkan kematian satwa liar yang dilindungi. Segala perbuatan melawan hukum dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Selain itu, kegiatan ilegal lainnya juga dapat menimbulkan konflik antara satwa liar khususnya harimau sumatera dengan manusia. Konflik ini telah mengakibatkan kerugian ekonomi, baik manusia maupun satwa liar.

Artikel sebelumyaImigrasi Putusibau: 5 TKI ilegal dikarantina di PLBN Badau
Artikel berikutnyaMendes berharap Gernas BBI Samarinda bangunkan pengusaha lokal