DOMPU – Selain memiliki alam yang indah dan eksotis, Pulau Sumbawa juga kaya akan kuliner. Kekayaan ini ditampilkan dalam Festival Pesona Tambora 2018. Dalam even ini, beragam masakan khas Pulau Sumbawa tersaji lengkap di Sarae Nduha, Savana Doro Ncanga, Dompu, Nusa Tenggara Barat, Selasa (10/4).

Merepresentasikan kekayaan kuliner Sumbawa, Festival Pesona Tambora menyajikan corner spesial. Beragam kekayaan alam nabati Pulau Samawa ini terbingkai dalam produk-produk berkualitas.

Pulau Sumbawa dikenal juga sebagai sentra penghasil jagung. Tak heran jika beragam produk olahan pun dihasilkan. Produk tradisional yang tetap dilestarikan adalah Jago Sombu. Yaitu panganan dari jagung dicampur gula dan parutan kelapa. Ada juga nasi jagung dan marning.

“Produk olahan jagung ini dihasilkan oleh IKM di Dompu. Jenisnya sangat beragam. Sebab, jagung jadi produk unggulan di daerah ini. Jumlahnya juga melimpah,” ungkap Ketua IKM Arika, Liliek Maswary.

Dari banyak jenis hasil kreativitas IKM di Dompu, minuman unik bernama De Arika termasuk yang menyita perhatian. De Arika sejatinya jus jagung yang diolah dengan treatment khusus. Minuman menggunakan bahan baku jagung muda, gula, dan susu. Namun, De Arika tidak menggunakan pengawet. Produksi minuman ini mencapai 1.500 botol per bulan. Harga yang ditawarkan Rp5.000-Rp7.000. Distribusinya di wilayah Dompu hingga Mataram.

“Jus jagung ini tidak difermentasi, sehingga harus cepat diminum. Produk ini sempat dikirim ke Malang dan Jakarta dengan cara dibekukan. Selain jus jagung, IKM kami juga tetap memproduksi olahan lain. Untuk jus jagung ini baru jalan beberapa tahun terakhir,” tutur Liliek lagi.

Sebelum melebarkan sayap dengan minuman olahan jus jagung, IKM Arika sempat menekuni produk berbahan dasar ubi dan pisang. Namun seiring dengan perubahan fungsi lahan yang ditanami jagung, IKM ini pun menambah lagi unit usahanya.

Setelah berubah menjadi sentra penghasil jagung, ekspor jagung perdana dari Sumbawa dilakukan pada 2017. Filipina menjadi negara tujuan utama ekspor. Maret 2018 lalu, 30.000 ton jagung diberangkatkan dari Sumbawa.

“Eksperimen kami dengan jus akhirnya berhasil. Kami harus beberapa kali meminta pendapat rekan-rekan terkait hasil olahan jus jagung ini. Yang jelas, produk ini semakin menambah potensi yang dimiliki Dompu dan Sumbawa pada umumnya. Sebab, luas lahan untuk tanaman jagung mencapai puluhan ribu hektare,” tutur Liliek lagi.

Selain jagung, kawasan Gunung Tambora juga terkenal sebagai penghasil kopi. Ada beragam jenis kopi yang sudah diolah, seperti kopi original Van Bredo dan Ori Coffee. Label kopi original tersebut menyesuaikan dengan unit bisnis yang memproduksinya. Selain original, mereka juga mengembangkan kopi plus jagung. Labelnya adalah Kopi Jagung Ori Tambora.

“Kopi Tambora ini sangat terkenal. Rasanya sangat nikmat. Cita rasa kopi di Tambora sangat khas karena daerah di sini sangat minim air. Dan, para wisatawan selalu memilih kopi Tambora ini sebagai oleh-oleh,” kata Bagian Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Dompu Heri Rustaman.

Namun, kawasan Gunung Tambora juga terkenal sebagai penghasil madu. Kawasan sentra madu terdapat di Dusun Nanga, Miro, Katupa, dan Kawinda. Sistem pengelolaan budi daya madu di sini pun unik. Kawasan hutan penghasil madu disewakan kepada masyarakat dalam bentuk kavling. Lahan madu ini disewakan dengan banderol Rp3 Juta hingga Rp5 Juta per tahun.

Panen madu dilakukan setiap 2-3 bulan sekali. Dalam setahun, para petani madu ini mampu menghasilkan hinga 1.000 liter. Harga per liter madu mencapai Rp100.000 hingga Rp120.000.

“Dana sewa lahan madu tersebut masuk ke kas desa. Produksi madu sangat bagus setiap tahunnya, bisa mencapai 1.000 liter. Kondisi hutan di Tambora masih sangat bagus. Alam masih terjaga. Jumlah pemukim masih minim, yaitu sekitar 15 rumah per dusun,” jelas Heri lagi.

Ada beragam jenis madu yang dihasilkan dari Gunung Tambora. Petani bisa menghasilkan madu bila bunga edelweis ini sedang dalam musim berbunga. Kalau pohon kesambi yang berbunga, maka madu yang dihasilkan berwarna kuning emas. Kawasan ini juga menghasilkan madu hitam yang berasal dari bunga pohon asam jawa. Selain manis, pada area Gunung Tambora ini juga menghasilkan madu dengan rasa pahit yang berasal dari pohon rida.

“Madu yang dihasilkan ini sangat bergantung dari jenis bunganya. Dan, madu pahit ini sebenarnya yang paling banyak dicari karena memiliki khasiat untuk treatment kesehatan,” kata Heri lagi.

Pulau Sumbawa juga dilengkapi dengan susu kuda liarnya yang sangat terkenal. Terutama di kawasan Dompu, Desa Saneo. Desa ini dikenal sebagai penghasil susu kuda liar karena banyaknya peternakannya di sana. Desa Saneo juga memiliki banyak IKM yang bergerak di bidang pengolahan susu kuda liar ini.

Staff Ahli Bidang Multikultural Kemeterian Pariwisata, Esthy Reko Astuti, juga mengacungi jempol untuk kekayaan Sumbawa.

“Kawasan Tambora dan Pulau Sumbawa sangat terkenal dengan kulinernya. Bahkan produk seperti madu dan susu kuda juga sangat melimpah hingga menjadi kekuatan lain pariwisata di sini. Ada banyak pilihan yang bisa dinikmati oleh wisatawan selama berada di sini,” jelas Esthy Reko Astuti.

Sedangkan Menteri Pariwisata Arief Yahya berharap potensi yang dimiliki Sumbawa bisa terus ditingkatkan. Sebab, selain alam yang indah, Sumbawa juga memiliki kuliner yang bisa diandalkan.

“Kuliner di Sumbawa sangat banyak dan unik dengan beragam manfaatnya. Potensi ini harus ditingkatkan lagi sehingga bisa mendatangkan banyak keuntungan lagi secara ekonomis. Kami berharap, ke depannya akan ada lebih banyak lagi kuliner beragam hasil bumi Tambora yang ditawarkan kepada wisatawan,” tutup Menteri Pariwisata Arief Yahya. (*)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here