Beranda News Khedar Nasir mengatakan Muhammadiyah-TNI memiliki pandangan yang sama

Khedar Nasir mengatakan Muhammadiyah-TNI memiliki pandangan yang sama

Yogyakarta (ANTARA) – Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah (PP) Khedar Nashir mengatakan Muhammadiyah dan TNI sependapat bahwa kehidupan berbangsa harus berlandaskan pada tiga nilai, yakni Panchashila, agama, dan budaya luhur bangsa. .

“Alhamdulillah Pak Kasad sependapat tentang nilai-nilai luhur dalam kehidupan bangsa Indonesia,” kata Khedar usai bertemu dengan Jenderal Kasad TNI Dudung Abdurahman di Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu. .

Jenderal Dudung mengunjungi P.P. Muhammadiyu didampingi Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Rudianto dan jajarannya.

Menurut Khedar, silaturahim Jenderal Dudung seperti biasa tetap dijaga dengan segenap elemen bangsa dengan tujuan untuk memperluas jaringan kerjasama dan komunikasi di lingkungan keluarga besar Indonesia.

Dikatakannya, Muhammadiyah dan TNI selalu menjaga hubungan baik dengan kepolisian dan instansi pemerintah karena memiliki hubungan sejarah yang panjang.

“Jenderal Soedirman sebagai kader dan tokoh Muhammadiyah, menjadi bapak pertama TNI dan menjadi tokoh sentral TNI,” ujarnya.

Menurutnya, nilai-nilai militansi, perjuangan dan kepahlawanan sudah melekat di Muhammadiyah.

Demikian pula TNI memiliki jiwa, nilai-nilai agama dan perjuangan, seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah, dan gerakan Muhammadiyah selalu bersama bangsa dan negara,” kata Khedar.

Bersama Jenderal Dudung, Khedar membahas pentingnya persatuan bangsa dengan melestarikan keragaman yang ada dengan tetap menjunjung tinggi prinsip musyawarah, kolektivitas, dan gotong royong.

“Persatuan adalah kunci masa depan Indonesia. Jangan sampai bangsa Indonesia terpecah belah karena perbedaan yang tidak bisa kita ajak berdialog, kita tidak bisa menemukan titik temu dan tentunya karena perbedaan yang memisahkan kita satu sama lain,” ujarnya. .,

Semua agama di Indonesia telah melalui berbagai proses panjang untuk berintegrasi menjadi identitas Indonesia, kata Khedar.

Sedangkan unsur-unsur budaya luhur bangsa telah membentuk jati diri bangsa seperti sifat persatuan, gotong royong dan keramahan bangsa Indonesia, yang menjadi pedoman bagi bangsa Indonesia dalam berhubungan dengan budaya asing.

“Dengan demikian, kita bisa belajar dari budaya lain, baik di Timur Tengah maupun Asia, di Barat, tetapi kita tetap harus memilih mana yang baik dan mana yang tidak sesuai dengan budaya luhur bangsa,” ujarnya.

Ia meminta agar nilai-nilai yang tidak sesuai dengan budaya luhur bangsa jangan dijadikan pedoman hidup masyarakat Indonesia.

Artikel sebelumyaIlmuwan Unmul Minta Pejabat Tindak 163 Tambang Ilegal di Kaltim
Artikel berikutnyaAnggota DPD menentang terciptanya gerakan Dayak yang semarak dan bermartabat