Beranda Nusantara KLHK menjelaskan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perluasan ekosistem ekonomi tertutup.

KLHK menjelaskan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perluasan ekosistem ekonomi tertutup.

Menurut saya, penciptaan ekosistem ini lebih spesifik, kita akan melakukannya dengan partisipasi lembaga keuangan lembaga.

Jakarta (ANTARA) – Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar mengatakan upaya pengembangan ekosistem ekonomi sirkular lebih spesifik dengan komitmen lembaga perbankan untuk berperan.

Bentuk dukungannya berupa pembiayaan mata pelajaran ekonomi sirkular, baik yang berada di bawah, misalnya di bidang pengolahan, maupun di atas, yaitu di bidang pengumpulan bahan baku, termasuk bank untuk sampah.

“Menurut saya, pengembangan ekosistem ini bisa lebih konkrit melalui komitmen lembaga keuangan,” kata Novrizal dalam diskusi virtual Forum Ekonomi Edaran Indonesia yang dipantau di Jakarta, Rabu.

Hal ini memberinya optimisme bahwa ekonomi sirkular akan menjadi solusi konkrit masalah sampah di Indonesia.

Oleh karena itu, ia mengapresiasi langkah yang diambil oleh Asosiasi Pengemasan dan Daur Ulang Berkelanjutan Indonesia melalui Indonesian Packaging Recovery Organization (IPRO) yang telah menandatangani nota kesepahaman dengan para pemangku kepentingan untuk memperluas komitmen kerjasama pengelolaan sampah dan praktik ekonomi sirkular di Indonesia.

“Ini tentu menunjukkan komitmen kami untuk meningkatkan kapasitas ekosistem ekonomi tertutup,” katanya.

Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan tujuan untuk mengurangi timbulan sampah hingga 30 persen dan meningkatkan pembuangan sampah hingga 70 persen.

Selain itu, ada tujuan untuk mengurangi jumlah sampah plastik di lautan hingga 70 persen pada tahun 2025 dan menghilangkan sampah plastik sekali pakai pada tahun 2030.

Dalam kesempatan tersebut, CEO IPSO Zul Martini Indravati menyampaikan bahwa komitmen mitra di bidang ini sangat penting untuk meningkatkan pengelolaan sampah di Indonesia.

“Ini poin penting, kita harus mencari mitra yang memiliki visi yang sama dengan kita, mereka siap untuk mengimplementasikan dan mengembangkan unit bisnis mereka dan daur ulang menguntungkan baik secara ekonomi maupun sosial,” jelas Martini.

Dijelaskannya, ke depan pihaknya berharap secara bertahap dapat memperluas kerjasama yang ada saat ini dengan daerah selain Jawa Timur dan Bali.

Artikel sebelumyaKLHK: Ekonomi sirkular bisa jadi solusi konkrit masalah sampah
Artikel berikutnyaMelestarikan dan memulihkan hutan bakau membantu mengurangi emisi karbon