Beranda Warganet Konas PDPI Inisiasi Program Kerja Atasi Masalah Kesehatan Paru-Paru

Konas PDPI Inisiasi Program Kerja Atasi Masalah Kesehatan Paru-Paru

Jakarta (ANTARA) – Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) ke-16 tahun 2021 menginisiasi serangkaian program kerja pengendalian dan pemberantasan gangguan kesehatan paru.

“Masalah polusi udara, tingginya konsumsi rokok dan rendahnya kepatuhan berhenti merokok di tempat umum, penularan penyakit paru-paru masih menjadi masalah utama di Indonesia,” kata Konas Agus Dvi Susanto, ketua umum panitia MET. dalam agenda webinar yang dipantau secara virtual di Jakarta, Jumat.

Masalah kesehatan paru-paru juga semakin meningkat. penyakit yang muncul kembali “Ancaman seperti COVID-19 terus menjadi penyebab utama penyakit, kematian dan berdampak pada produktivitas dan tingginya tingkat pendanaan kesehatan,” kata Agus.

Dikatakannya, salah satu penyakit yang masih menjadi masalah adalah penyakit Tuberkulosis (TB). Data terakhir tahun 2020 menunjukkan jumlah kasus di Tanah Air mencapai 67 persen, terjadi pada usia produktif 15 hingga 54 persen, dan 9 persen pada anak di bawah 15 tahun dengan tuberkulosis.

Menurut Agus, Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban tuberkulosis tertinggi di dunia, dengan perkiraan 845.000 orang tertular tuberkulosis dan angka kematian 98.000, atau setara dengan 11 kematian per jam.

“PDPI sebagai organisasi dokter di bidang paru dan kedokteran pernapasan selalu berkomitmen untuk mengatasi masalah pernapasan, termasuk dalam rangka pengendalian tuberkulosis, berperan aktif dalam promosi, pencegahan dan pengobatan tuberkulosis sesuai dengan standar pelayanan” , – dia berkata.

Peserta diingatkan bahwa TB harus selalu menjadi topik hangat, menampilkan data terbaru, pengobatan terbaru dan strategi terbaru untuk mendukung pemberantasan TB pada tahun 2030.

“Oleh karena itu, dalam menyambut PP Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan TBC, kami akan selalu berkomitmen dengan kebijakan ini dan akan bekerja sama dengannya,” katanya.

PDPI sepakat untuk melaksanakan upaya penguatan program, antara lain menyusun dan melaksanakan perencanaan dengan memetakan daerah yang dilaporkan mengalami penurunan kasus selama pandemi COVID-19, mengintensifkan pencarian kasus melalui penemuan kasus aktif di daerah dan populasi rentan dan menyediakan makanan bagi pasien tuberkulosis dan keluarganya.

Amplifikasi juga diupayakan dalam upaya peningkatan pemanfaatan teknologi digital, seperti: konsultasi jarak jauh meningkatkan akses layanan kesehatan, layanan virtual untuk pasien tuberkulosis, pemantauan dan pengobatan.

“Kami juga melaksanakan program penguatan berbasis masyarakat melalui: peningkatan kapasitas masyarakat dan jaringan publik,” dia berkata.

Terakhir, kata Agus, peningkatan pemanfaatan penelitian untuk kepentingan pasien.

“Tuberkulosis harus menjadi kegiatan lintas program atau sektoral dengan dukungan program dan sumber daya. Pengobatan tuberkulosis juga mencakup masalah kesehatan terkait HIV, DM, merokok, pola makan dan lain-lain,” ujarnya.

Untuk itu, Agus berpesan kepada seluruh anggota untuk terus memperkuat peran dokter spesialis paru dalam menangani pasien sesuai dengan pedoman, pendidikan kesehatan, pelatihan tenaga kesehatan, dokter, spesialis.

“Kami juga memperkuat hubungan dengan sektor kesehatan pusat dan daerah, mengadvokasi sektor publik dan swasta, melakukan publikasi ilmiah dan populer, penelitian dasar, penelitian klinis dan lapangan, dan menjadi advokat utama untuk mengakhiri TB,” katanya.

Artikel sebelumyaRCMP menangkap dua kapal pukat harimau di perairan Selat Malaka
Artikel berikutnyaPuluhan rumah di Mamas hanyut diterjang banjir