Beranda News Maarif Institute: Memperketat prosedur untuk mencegah penyebaran Omicron.

Maarif Institute: Memperketat prosedur untuk mencegah penyebaran Omicron.

Jakarta (ANTARA) – Pemerintah didorong untuk memperketat penerapan protokol kesehatan (procs) pada aktivitas masyarakat guna mencegah lonjakan kasus penularan varian baru COVID-19 ke Omicron, kata peneliti Institut Maarif Endang Tirtana. …

“Dengan terungkapnya kasus pertama dengan Omicron, pemerintah harus memperketat prosesnya. Jangan sampai masyarakat Jawa iri karena jumlah kasus COVID-19 akhir-akhir ini menurun,” kata Endang mengutip keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

Maarif Institute, kata dia, berharap pemerintah dapat mengontrol pergerakan masyarakat, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru 2022.

Pengawasan tetap diperlukan untuk membatasi aktivitas masyarakat, meskipun pemerintah telah memutuskan untuk tidak memberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3, kata Endang.

Tak hanya itu, ia meminta pemerintah memastikan fasilitas kesehatan yang ada siap menerima pasien jika terjadi lonjakan kasus positif dan pasien rawat inap.

“Pemerintah pusat dan pemerintah daerah diharapkan mengecek kesiapan seluruh fasilitas kesehatan. Ini mengandaikan fasilitas kesehatan disiapkan untuk lompatan ke depan, yang bisa menurunkan angka kematian, ”jelas Endang.

Ia berharap ke depan Gugus Tugas Covid-19 mampu mencegah pelanggaran protokol kesehatan, termasuk pelanggaran aturan karantina.

“Jangan main-main dengan pelanggaran karantina, apalagi dari luar negeri,” kata Endang.

Maarif Institute menilai pemerintah perlu mengambil langkah cepat untuk mencegah peningkatan jumlah kasus akibat varian baru Omicron COVID-19.

Pasalnya, kata dia, peningkatan kasus tidak hanya akan membebani sektor kesehatan, tetapi juga dapat melumpuhkan perekonomian, seperti yang terjadi pada puncak gelombang kedua dan pertama Covid-19.

“Jangan sampai ekonomi lumpuh lagi karena gagal meramalkan Omicron,” kata Endang.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, membenarkan kedatangan Omicron di Indonesia yang ditemukan pada seorang pekerja di Rumah Sakit Wisma Atlet Kemayoran Jakarta.

Hasil itu didapat dari tes PCR tiga petugas kebersihan halaman rumah sakit pada Rabu (12 Agustus), kemudian pada Jumat (12 Oktober), hasilnya positif COVID-19.

Kementerian Kesehatan kemudian mencermatinya, dan pada Rabu (15 Desember), diketahui satu dari tiga pekerja mengidap COVID-19 akibat mutasi Omicron.

Artikel sebelumyaAlexandra Gottardo – Martino Lio akan muncul di "penginapan melati"
Artikel berikutnyaButuh 4 tahun untuk membuat film "Penculikan Raden Saleh"