Beranda Nusantara Netizen mengutuk penangkapan tujuh lumba-lumba di Pacitan

Netizen mengutuk penangkapan tujuh lumba-lumba di Pacitan

Pakitan, Jawa Timur (ANTARA) — Kasus penangkapan tujuh ekor lumba-lumba berbulu putih paruh panjang di perairan Pakitan, Jawa Timur menuai kecaman dari warganet.

Hal ini terlihat dari akun @ndorobei.official salah satu akun pertama yang mengunggah video berdurasi 14 detik yang berisi gambar penangkapan tujuh ekor lumba-lumba di geladak salah satu kapal nelayan.

Hingga Minggu sore, unggahan video amatir dari penangkapan dan dugaan pembunuhan lumba-lumba paruh panjang telah mengumpulkan 1.257 suka dan 192 komentar.

Sebagian besar netizen mengkritik tindakan para nelayan yang menangkap dan membunuh mamalia laut yang dilindungi ini.

“Pak, tolong tangkap mereka @Polres_Pacitan @kemenkumhamri,” komentar seorang netizen dengan akun @manukho_038 sambil menunjuk akun resmi milik Polri Pasitan dan Kementerian Hukum dan HAM RI.

“Nona @susipudjiastuti115 ada yang minta diikat ke jangkar lalu ditenggelamkan, Bu. Sikaaatttt bu,” jawab @iqbal.2.9 menautkan akun pribadi mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019, Susi Pujiastuti.

Banyak netizen yang langsung men-tag akun resmi instansi terkait yang berwenang menangani isu perburuan satwa, dengan harapan kasus tersebut segera ditangani.

Akun mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Gakkum (Dirjen Penegakan Hukum di KLHK), Polisi Perairan Indonesia, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang menangani masalah satwa yang dilindungi, hingga komunitas dan aktivis penyayang binatang seperti Animal Sotories. Indonesia, Greenpeace, Koalisi, Kesejahteraan Hewan dan banyak lagi.

“Sebagai informasi, saya bekerja di kapal nelayan seperti itu. Alat tangkap yang digunakan adalah purse seine. Target utamanya bukan lumba-lumba, melainkan ikan pelagis, tuna dan tuna. Namun, biasanya ada ikan (binatang) yang ditangkap, seperti lumba-lumba, marlin, penyu, dll, karena dikelilingi oleh kerumunan ikan-ikan kecil yang menjadi sasaran mancing.

“Karena lumba-lumba tidak sengaja terjerat jaring, biasanya mereka mati karena tidak bisa bergerak. Tetapi jika mereka masih hidup, mereka dikembalikan ke laut. Jadi untuk lumba-lumba, marlin, penyu, dll, “kecelakaan” dan bukan “objek utama” memancing dengan purse seine.

“Saya yakin para nelayan sudah mengetahui larangan menangkap ikan langka seperti lumba-lumba. Mohon koreksi saya jika saya salah. Ini hanya berdasarkan pengalaman saya di kapal nelayan Juwana, Paty, Jawa Tengah. Thanks,” tulis @stsaputra, mencoba memberikan perspektif berbeda.

Meski berbagai kritikan dari warganet, aktivis lingkungan dari Kabupaten Pacitan berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak, termasuk pemangku kepentingan yang terkait dengan industri perikanan.

Karena jika terbukti ada praktik penangkapan, itu akan menjadi preseden yang tidak menguntungkan bagi masyarakat internasional.

“Saya harap tidak ada penangkapan, ya. Mudah-mudahan hanya ‘kecelakaan’ (kecelakaan) karena kena jaring, sebut saja kecelakaan,” kata pemerhati lingkungan dan peselancar Kabupaten Pacitan, Cubboh Hember.

Artikel sebelumyaIndEX: Pemenuhan kebutuhan masyarakat menjadi motor penggerak Jokowi pasca 2024
Artikel berikutnyaPolisi: Empat lumba-lumba masih hidup dan dilepaskan ke laut