Beranda Warganet Orang tua yang terinfeksi COVID-19 dapat menjaga anaknya di Kementerian Sosial

Orang tua yang terinfeksi COVID-19 dapat menjaga anaknya di Kementerian Sosial

Orang tua yang menjalani pengobatan COVID-19 seharusnya dapat menerima penitipan anak di kantor Kemensos untuk beberapa waktu.

Jakarta (ANTARA) – Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat mengatakan pihaknya akan menyiapkan layanan penitipan anak di kantor Kementerian Sosial jika orang tua sedang dirawat karena infeksi COVID-19.

“Orang tua yang sedang menjalani pengobatan COVID-19 seharusnya dapat menerima penitipan anak di kantor Kementerian Sosial untuk beberapa waktu,” kata pernyataan itu, Sabtu di Jakarta.

“Semua ruangan harus siap melayani keluarga yang membutuhkan bantuan dan menjadi tempat anak-anak yang masih membutuhkan perawatan,” imbuhnya.

Sebanyak 41 kantor Kementerian Sosial yang tersebar di seluruh Indonesia siap menindak kasus tersebut. Sesuai arahan Mensos, setiap pusat rehabilitasi sosial menyediakan layanan multifungsi.

“Selain meningkatkan pelayanan menjadi multifungsi, setiap sentra milik Kementerian Sosial harus mampu merespons urusan anak. Di 41 sentra, sentra tersebut berfungsi sebagai titik pengaduan, termasuk jika ada anggota keluarga atau orang tua dari anak. terdampak COVID-19,” ujarnya.

Ia menjelaskan, melalui kerjasama dengan United Nations Children’s Fund (UNICEF), terdapat Standard Operating Procedure (SOP) untuk anak-anak terdampak COVID-19.

Sementara itu, pasien COVID-19 (OTG) tanpa gejala dapat terus dirawat di pusat-pusat dengan area isolasi khusus.

Keputusan untuk melakukan isolasi mandiri dapat dilihat langsung dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di 41 Puskesmas.

“Isolasi untuk OTG di aula Jakarta ada 38 ruangan, sedangkan di Aula Bekasi yaitu Aula Budi Dharma dan Pangudi yang megah masing-masing 10 ruangan, satu orang, satu ruangan,” kata Harry Hikmat.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Muladi mengatakan, setiap anak berhak untuk sehat dan bahagia, sehingga membutuhkan kurikulum yang tidak membebani mereka.

Ia mengatakan, upaya untuk membantu anak-anak itu tidak hanya fisik tetapi juga psikologis.

Dalam situasi seperti itu, perlu dibuat program hiburan agar anak-anak yang dirawat di rumah sakit akibat COVID-19 dapat terus bermain.

“Membuat anak-anak Indonesia senang dan bahagia, jangan membebani mereka dengan kurikulum, apalagi jangan sakit atau gugup,” kata Seto Muladi.

Artikel sebelumyaPencegahan penggunaan narkoba pada anak-anak dan remaja
Artikel berikutnyaDi Kediri-Jatim, limbah babat sapi dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk kubis.