Beranda Hukum Pakar: Era "pasca-kebenaran" membuka peluang korupsi tumbuh

Pakar: Era "pasca-kebenaran" membuka peluang korupsi tumbuh

Jakarta (ANTARA) – Pengacara dan Sekretaris Pusat Penelitian Antikorupsi Universitas Gajah Mada Hasrul Khalili mengatakan era pasca-kebenaran membuka peluang korupsi di Indonesia karena mendorong perilaku masyarakat yang bertentangan dengan prinsip kejujuran dan kesusilaan.

“Sekarang perilaku korupsi dan tindak pidana korupsi semakin menjadi salah satunya, karena kita hidup di era posting kebenaran– era kebohongan, ketidaktulusan, dan manipulasi di tempat umum membantu kami, ”kata Hasrul Khalili.

Hasrul Khalili menyatakan ini ketika dia berbicara di webinar Program nasional “Membangun Integritas Mahasiswa dalam Pemberantasan Korupsi” yang disiarkan langsung di kanal YouTube Universitas Ahmad Dahlan, dipantau dari Jakarta, Sabtu.

Fitur penting dari era pasca-kebenaran atau era pasca-kebenaran, – lanjutnya, – di antaranya kebohongan dimanipulasi sedemikian rupa sehingga tampak benar, dan pembenaran lebih diutamakan daripada kebenaran sejati.

“Lalu yang terakhir, iblis zaman itu pasca-kebenaran Itu informasi yang disampaikan dengan bermain dengan psikologi emosional, dan bukan dengan argumentasi ilmiah dan berbasis data,” tambah Hasrul Khalili.

Menurut dia, sesuai dengan karakteristik tersebut, tindak pidana korupsi dan perilaku korupsi semakin merajalela akibat era korupsi. pasca-kebenaran Alasan yang mendominasi masyarakat adalah hal-hal yang dimanipulasi, informasi yang salah, lelucon dan kebohongan.

Selain itu, Hasru Khalili mengapresiasi bahwa semua ini berkontribusi pada munculnya perilaku yang bertentangan dengan prinsip kejujuran dan kesusilaan. Jadi, orang-orang di zaman itu pasca-kebenaran juga terdorong untuk melakukan korupsi.

“Yang disebut korupsi yang bermain di ranah kebohongan seperti itu bisa menjadi ancaman serius bagi apa yang kita sebut nilai integritas dan kejujuran,” katanya.

Untuk mengatasi ancaman tersebut, Hasru Khalili menghimbau kepada seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk menciptakan pendidikan karakter yang mengaitkan tiga hal, seperti yang diungkapkan Yudi Latif dalam bukunya. Wawasan Pancasila: Bintang Penuntun Peradaban.

Ia menjelaskan bahwa ketiga hal tersebut adalah pengetahuan moral, perilaku nyata dan situasi tertentu. Selain itu, ia juga mendorong perguruan tinggi untuk menjadi pulau integritas atau panutan kejujuran bagi masyarakat Indonesia dan mahir dalam materi pendidikan dan teknik anti korupsi.

Menurut Hasrul Khalili, berkat langkah tersebut, mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi dapat menjadi peserta perjuangan antikorupsi Indonesia.

Artikel sebelumyaBPBD sebut banjir di Aceh Timur sudah surut
Artikel berikutnyaMalaysia Akan Deportasi 229 TKI ke Nunukan