Lumajang – Kabupaten Lumajang berkomitmen menempatkan pariwisata sebagai sektor prioritas. Komitmen ini pun dibuktikan. Dari 80 destinasi wisata yang ada, 37 diantaranya siap untuk dijual. Berbagai destinasi juga masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Bromo Tengger Semeru.

“Pariwisata masuk jadi lima sektor yang paling diandalkan. Berbagai program yang dikembangkan ini ditanggung bersama oleh berbagai pihak. Salah satunya oleh Kementerian PUPR dalam hal infrastruktur,” kata Agus Widarto, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Minggu (8/4).

Agus menjelaskan, saat ini pihaknya terus mengenjot pariwisata bersama stakeholder lainnya. Hal itu untuk mempercantik dan meningkatkan daya saing pariwisata di Lumajang. Berbagai akselerasi juga terus dikembangkan. Termasuk menggali dan mengembangkan destinasi yang ada sehingga lebih berkelas.

Pemkab Lumajang juga memiliki kebijakan untuk menjadikan pariwisata sebagai leading sektor. Kebijakan tersebut dalam bentuk perintah agar segala pembangunan infrastruktur mengarah kepada pengembangan dan kemajuan pariwisata. Selain itu dari sisi anggaran pun terus disesuaikan dan akan ditingkatkan setiap tahunnya.

Upaya kebijakan dan arahan pembangunan ke sektor pariwisata ini, dilakukan untuk menciptakan daya saing. Selain tentunya menarik investor. Pihaknya akan membuat perijinan lebih mudah, simpel, dan singkat bagi para investor.

“Semakin mudah izinnya semakin cepat investor untuk datang ke Lumajang. Contohnya, mempercepat izin pembangunan hotel,” ujar Agus.

Unsur 3A (aktraksi, amenitas, dan aksesibilitas) di Kabupaten yang berjarak 18 Kilometer dari Jember itu juga memadai. Amenitas sudah cukup bagus baik pengembangan homestay di desa wisata hingga empat hotel yang yang berada di sekitar lokasi wisata. “Beberapa operator hotel internasional tahun ini sudah mulai masuk, salah satunya Aston Hotel,” ucap Agus.

Dari sisi aksesbilitas menuju Kabupaten Lumajang relatif mudah. Karena, dapat ditempuh dengan jalur udara dan darat.  Pihaknya juga mendukung rencana dibukanya Jalur Lintas Selatan (JLS)  dari Probolinggo ke Lumajang dan Dampit hingga Lumajang. “Karena kalau itu terwujud, Lumajang bisa menjadi titik yang luar biasa,” ujar Agus.

Untuk menuju Lumajang bisa ditempuh dengan berbagai cara. Mulai dari penerbangan ke Jember, lalu menyambung bus ekonomi atau patas dengan harga Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu. Dengan waktu tempuh dari Bandara Jember ke Lumajang sekitar 30 menit.

Lalu yang kedua bisa juga melalui penerbangan ke Bandara Juanda di Surabaya. lalu dari bandara menggunakan bus Damri ke Terminal Bungurasih. Kemudian dari Terminal Bungurasih turun di Terminal Klakah. Lalu yang ketiga bisa juga menggunakan kereta menuju Surabaya Pasar Turi. Lalu dari Pasar Turi dilanjutkan naik angkutan umum ke Stasiun Gubeng, dari Stasiun Gubeng baru dilanjutkan menuju Stasiun Klakah.

Sementara itu unsur atraksi, tahun ini Kabupaten ini menyiapkan berbagai event unggulan yang akan digelar sepanjang tahun. “Ada Festival Puncak B29 tiap tahun. Festival Jarak Kecak, Ada menari di atas awan. Kami buat rencana induk kepariwisataan yang akan ditetapkan jadi perda. Peran eksekutif dan legislatif mendukung pengambangan pariwisataan. Tahun ini kita akan mengkurasi beberapa event untuk dijadikan sebagai annual event yang mempunyai daya tarik wisata,” katanya.

Berbagai destinasi wisata yang tengah dikembangkan adalah wisata ranu (danau). Seperti Ranu Pane, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Yang terakhir ini menjadi daya tarik wisatawan asal Asia dan Eropa.

“Setelah itu di Gunung Lemongan ada sembilan ranu tetapi, yang terkenal ada Ranu Klakah, Ranu Pakis dan Ranu Bedali,” ujarnya.

Di sana, wisatawan dapat melihat konsep berbagai keindahan alami. terutama bagi para fotograger. Keindahan berabagai ranu sangat sayang untuk dilewatkan. Terlebih saat momen matahari terbit. Juga ada Hutan Bambu yang memiliki area 14 Ha yang terletak di Desa Sumber Mujur, Kecamatan Candipuro.

Sepanjang hutan bambu, anda dapat melihat ratusan kera – kera jinak. Wisatawan pun bisa berinteraksi seperti memberikan makanan. Tak hanya itu, para pengunjung juga bisa melihat ribuan ekor kalong atau kelelawar yang bergelantungan di pohon-pohon bambu dan pohon sekitarnya.

Pemkab Lumajang juga membuat kebijakan pembangunan pariwisata harus fokus pada prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan.

Di antaranya memanfaatkan secara optimal sumber daya lingkungan, memelihara proses-proses ekologi, menghargai keaslian dan nilai-nilai sosial budaya dari komunitas lokal, dan dalam jangka panjang harus memberi manfaat sosial ekonomi pada masyarakat luas.

“Dengan memperhatikan konsep pariwisata berkelanjutan, harapannya sumber daya alam yang ada di Lumajang bisa terjamin keberlangsungan hidupnya,” pungkasnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut baik kebijakan Pemkab Lumajang menjadikan pariwisata sebagai sektor prioritas. Karena komitmen kepala daerah akan menentukan kesuksesan pariwisata.

“Peran kepala daerah, baik itu Gubernur, Bupati, Walikota, menentukan 50% kesuksesan daerah dalam membangun sektor pariwisata. Di awali dengan komitmen orang nomor satu di daerah itu, maka semua program dengan mudah akan berjalan. Begitu pun sebaliknya. Karena tugas pemimpin itu menentukan arah dan mengalokasikan sumberdaya. Keseriusan akan terlihat dari bagaimana Pemda memprioritaskan sumber daya dan anggaran mereka di pariwisata,” tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here