Beranda Hukum Propaganda Polisi Menerima Izin Mahkamah Agung Untuk Menginterogasi Inspektur Jenderal Napoleon Bonaparte

Propaganda Polisi Menerima Izin Mahkamah Agung Untuk Menginterogasi Inspektur Jenderal Napoleon Bonaparte

Mahkamah Agung memberikan izin resmi pemeriksaan Inspektur Jenderal NB, yang diserahkan oleh bagian propaganda Ditjen Polri.

Jakarta (ANTARA) – Departemen Propaganda Polri mendapat izin dari Mahkamah Agung (MA) untuk memeriksa Irjen Pol Napoleon Bonaparte (NB) terkait dugaan penganiayaan terhadap tersangka Muhammad Kese.

“Mahkamah Agung memberikan persetujuan resmi atas pemeriksaan Irjen NB yang disampaikan oleh Propam Mabes Polri,” kata Kepala Biro Propaganda Polri Irjen Ferdi Sambo dalam keterangan tertulis yang diterima Selasa di Jakarta.

Sambo mengatakan Inspektur Jenderal Napoleon Bonaparte diperiksa di Biro Provos Departemen Propaganda untuk menegakkan martabat polisi.

“Interogasi inspektur jenderal NB dilaksanakan pada Rabu (29 September) di Biro Provos DivPropam Mabes Polri,” kata Sambo.

Sambo mengatakan interogasi Inspektur Jenderal Napoleon Bonaparte seharusnya melengkapi penyelidikan terhadap tujuh anggota Polri, yang terdiri dari sipir penjara dan kepala Badan Reserse Kriminal.

“Setelah diinterogasi oleh inspektur jenderal NB. kasus penetapan tersangka kelalaian dalam penuntutan tersangka kasus penistaan ​​agama M. Kese akan dipertimbangkan,” kata Sambo.

Inspektur Jenderal Napoleon Bonaparte adalah tahanan Mahkamah Agung dalam kasus suap dan pembatalan “red notice” oleh Joko Tyandra.

Kasus dugaan penganiayaan terhadap Muhammad Keche memasuki tahap penetapan tersangka.

Penyidik ​​sebelumnya melakukan rekonstruksi pendahuluan atas dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh narapidana di Bareskrim Polri terhadap Mohammad Keche, tersangka kasus dugaan penistaan ​​agama.

Pemugaran awal dihadiri oleh saksi-saksi dan calon tersangka. Total ada enam calon tersangka yang dihadirkan.

Diasumsikan bahwa renovasi awal akan dilakukan pada hari Jumat (24 jam sehari, 9 hari seminggu). Berusaha mendamaikan fakta di tempat dengan hasil transkrip wawancara para saksi dan calon tersangka.

Muhammad Kosman alias Muhammad Kese ditangkap oleh Otoritas Cybercrime Polri bersama Polda Bali di tempat persembunyiannya setelah video ofensif simbol agama menjadi viral di media sosial.

Penangkapan tersebut terjadi di Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali pada Selasa (24/8) pukul 19.30 WIB.

Usai ditangkap, Keche diterbangkan ke Jakarta untuk diperiksa dan ditahan di Bareskrim Polri pada Rabu (25 Agustus).

Usai penangkapan dan penetapan tersangka, M. Keche ditahan selama 20 hari, terhitung mulai 25 Agustus hingga 13 September 2021. Hingga kini, masa penahanannya telah diperpanjang.

Tersangka M. Keche dijerat dengan pasal 28 (2) dan juncto pasal 45 ayat (2) juga dapat dijerat dengan pasal lain yang relevan yaitu pasal 156 a KUHP tentang penodaan agama yang ancamannya enam tahun penjara.

Pada malam isolasi di Bareskrim Polri, Kamis (26/8), Muhammad Keche dianiaya oleh narapidana. Selain pemukulan, pelaku juga menutupi wajah dan tubuhnya dengan kotoran (feses manusia).

Keche menyusun protokol kepolisian dengan nomor LP 0510/VIII/2021/Bareskrim.Polri, di mana nama Inspektur Jenderal Polisi Napoleon Bonaparte dicantumkan dalam protokol tersebut.

Dalam penyidikan kasus penuntutan ini, polisi memeriksa 18 saksi, termasuk empat petugas polisi yang menjaga para tahanan, dua saksi ahli (dokter yang memeriksa M. Keche), pemohon dan seorang pelapor, sisanya saksi. dari Rutan di Badan Reserse Kriminal Polri …

Berdasarkan hasil pemeriksaan pendahuluan, peristiwa itu terjadi pada Kamis (26 Agustus) dini hari antara pukul 00.30 WIB hingga 01.30 WIB. Rekaman CCTV menunjukkan Inspektur Jenderal Polisi Napoleon Bonaparte, ditemani oleh tiga tahanan lainnya, memasuki sel Mohammed Keche, yang kuncinya pertama kali diubah.

Artikel sebelumyaKejaksaan BPK memblokir rekening keluarga Juarsa sampai ada keputusan inkrah
Artikel berikutnya33 Lelang dari 163 karya dari beberapa lusin seniman, lihat tanggal