Beranda Warganet Tiga desa di Musi Banyuasin membentuk organisasi restorasi gambut masyarakat

Tiga desa di Musi Banyuasin membentuk organisasi restorasi gambut masyarakat

Palembang (ANTARA) – Sebanyak tiga desa di sekitar Kawasan Bentang Alam Sembilang, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan membentuk Restorasi Peduli Masyarakat untuk mendorong partisipasi masyarakat di kawasan penyangga hutan dalam melestarikan ekosistem gambut.

Koordinator Gerakan Cinta Desa Eco Waskito mengatakan dalam webinar virtual pada hari Senin bahwa tiga desa, desa Muara Merang, desa Telang dan desa Pagar Desa, sekarang menjadi percontohan program pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan gambut.

Melalui acara Restorasi Peduli Masyarakat (MPR) ini, warga dihimbau untuk membuat kompos, pembibitan lele ember (budikdamber).

Penduduk setempat memperoleh penghasilan dari tiga kegiatan utama sehingga dapat membantu perekonomian keluarga.

MPR yang didominasi perempuan sejauh ini telah menjual bibit pohon ke APP Sinar Mas, menghasilkan keuntungan sebesar Rs 12 juta. Masyarakat juga menanam sekitar 16.000 bibit di Pipit dan Tembesu Angin yang dikontrak oleh salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.

“Masyarakat sudah menggunakan sekitar 9000 bibit pohon. penjual dan pembeli di Desa Muara Merang. Sedangkan Pagar Desa dan Desa Telang akan menyusul ke depan,” ujarnya dalam Webinar Bersama Restorasi yang mengangkat tema “Upaya Restorasi Hutan Gambut di Lanskap Sembilang”.

Model pemberdayaan masyarakat ini akan terus ditingkatkan melalui kerjasama dengan BUMD setempat agar para pelaku usaha dapat beroperasi secara lebih profesional.

Namun, ini membutuhkan kerja keras, karena bisa dikatakan BUMDes sudah berhenti di tiga desa, katanya.

Untuk itu diperlukan kerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong masyarakat di sekitar kawasan hutan agar berdaya secara ekonomi dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Sementara itu, Koordinator Pusat Keunggulan Komoditas Berkelanjutan (PUKL) Pemerintah Kabupaten Mushi Banyuasin, Yuvono Aries, mengatakan, pemerintah Kabupaten Muba saat ini sedang menggandeng berbagai pihak untuk bekerjasama dalam melestarikan ekosistem gambut di lanskap Sembilang.

Saat ini upaya pelestarian lingkungan dan pembangunan hijau telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan dituangkan dalam sejumlah peraturan daerah.

“Selama ini Pemkab Muba telah menyediakan forum di PUKL yang dapat digunakan sebagai sarana komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memulihkan bentang alam Sembilang dan meningkatkan partisipasi masyarakat,” ujarnya.

Pemerintah kabupaten mendorong banyak pihak untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat menstimulus perekonomian warga. Dengan demikian, menurut dia, keinginan warga untuk merambah hutan bisa dicegah, karena tingkat kesejahteraannya meningkat.

Bentang alam Ninega yang terletak di dua kabupaten di Sumatera Selatan, yakni Musi Banyuasin dan Banyuasin, mengkhawatirkan karena sebagian lahan gambutnya telah terdegradasi akibat kebakaran hutan dan lahan.

Berbagai pihak berkolaborasi, mulai dari perusahaan, pemerintah, lembaga sosial, warga, hingga merestorasinya dengan target mencapai 25 ribu hektar dari total luas 1,6 juta hektar*.

Artikel sebelumyaTidak ada kasus COVID-19 di Semarang selama 6 hari
Artikel berikutnyaBupati Bogor buka enam taman sekaligus