Beranda Hukum Walikota Tanjungbalai M. Syahrial divonis 2 tahun penjara

Walikota Tanjungbalai M. Syahrial divonis 2 tahun penjara

Jakarta (ANTARA) – Wali Kota Tanjungbalai Tidak Aktif Muhammad Syahrial divonis 2 tahun penjara plus denda 100 juta rupiah, ditambah 4 bulan penjara karena terbukti menyuap mantan penyidik ​​PKC Stepanus Robinson Pattuj sejumlah rupiah. .. 1,695 miliar agar tidak membawa kasus dugaan korupsi ke tingkat penyidikan.

Pengadilan memutuskan bahwa terdakwa Muhammad Syahrial telah secara sah dan meyakinkan dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagai dakwaan alternatif terhadap kedua jaksa. Terdakwa Muhammad Syahrial divonis dua tahun penjara dan denda Rp. penjara selama 4 bulan, “- kata ketua majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Medan, Senin.

Syahrial menghadiri persidangan melalui “video conference” dari gedung BPK di Jakarta.

Putusan majelis hakim yang terdiri dari Ashar M. Lubis, Zulhanuddin dan Husni Tamrin itu di bawah tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang meminta Syahrial divonis 3 tahun penjara plus denda 150 juta rupiah. , tambahan untuk 6 bulan penjara.

Putusan tersebut didasarkan pada dakwaan alternatif kedua yang terdapat dalam pasal 5 ayat 1 huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 64, ayat 1 KUHP…

Hakim juga menolak pengakuan Syahrial bahwa aparat penegak hukum (justice officer) bersalah.

“Adapun pernyataan ‘kaki tangan dalam keadilan’, menurut pendapat kolegium, tidak sesuai dengan ketentuan. Penolakan permohonan “kaki tangan dalam keadilan” dari terdakwa, “tambah hakim.

Ada beberapa hal yang memberatkan dan meringankan tindakan Syahrial.

“Ini diperparah dengan kenyataan bahwa terdakwa bertentangan dengan kebijakan pemerintah yang aktif memberantas korupsi dengan menciptakan pemerintahan yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Terdakwa adalah pencari nafkah keluarga, ”kata hakim.

Dalam hal ini terbukti M. Syahrial selaku Wali Kota Tanjungbalai yang juga anggota Partai Golkar berkunjung ke rumah dinas Wakil Ketua DPR RI yang juga pengurus Partai Golkar tersebut. Muhammad Azis Syamsudin, di Jalan. Denpasar Raya, Kuningan, Jakarta Selatan, meminta dukungan Azis Syamsuddin dalam pencalonannya di Pilkada Tanjungbalai 2021-2026.

Kemudian Azis Syamsudin memperkenalkan Syahrial kepada Stepanus Robin Pattuj selaku penyidik ​​PKC. Stepanus Robin Pattuju, seperti diketahui, kerap mengunjungi rumah dinas Azis Syamsuddin.

Syahrial meminta Stepanus Robin untuk tidak meningkatkan penyidikan jual beli jabatan di Pemkot Tanjungbalai, yang diikuti Syahrial, ke tingkat penyidikan, agar bisa ikut serta dalam proses pemilihan di Tanjungbalai.

Beberapa hari kemudian, Stepanus Robin menghubungi temannya Maskur Husein yang berprofesi sebagai pengacara, dan mengatakan telah ada permintaan bantuan penanganan kasus dari wilayah Tanjungbalai, Sumatera Utara.

Maskoor kemudian bersedia membantu penanganan kasus tersebut dengan dana Rp 1,5 miliar. Permintaan Maskur itu disetujui Stepanus Robin untuk diteruskan ke Syahrial.

Atas permintaan tersebut, Stepanus Robin siap membantu dengan meminta uang sebesar Rp 1,5 miliar untuk membela kasus tersebut, dan setelah meminta uang, Stepanus Robin menginformasikan hal tersebut kepada Azis Shyamsuddin.

Setelah itu, Stepanus Robin memberi tahu Syahrial bahwa dia memberikan keamanan agar tim investigasi PKC tidak pergi ke Tanjungbalai, dengan mengatakan, “Kasus Pak Wali aman.”

Selain itu, sekitar Januari 2021 dan Februari 2021, Stepanus Robin juga menginformasikan Syahrial bahwa kasus yang sedang dikejar PKC terkait dugaan jual beli jabatan di Pemkot Tanjungbalai yang melibatkan Syahrial diamankan oleh Stepanus Robin.

Syahrial kemudian secara bertahap mentransfer uang sejumlah Rs 1,695 miliar kepada Stepanus Robin Pattuj dan Maskur Hussein, dari tanggal 17 November 2020 pertama hingga 12 April 2021, ke rekening BCA atas nama Rifka Amalia sebesar Rs. 1,275 miliar.

Kedua, transfer bertahap uang kepada Stepanus Robin dan Maskur Hussein pada 22 Desember 2020 ke rekening BCA atas nama Maskur Hussein sebesar Rp 200 juta.

Ketiga, transfer dana sebesar Rs 220 juta kepada Stepanus Robin dan Musk Hussein pada 25 Desember 2020 sebesar Rs 210 juta di kedai kopi restoran Mie Balap di Pematang Siantar City, maka uang itu ditransfer ke Stepanus Robin – Maskur Hussein, dan pada Maret 2021 Tahun Syahrial memberi Stepanus Robin uang 10 juta rupee di bandara Medan Kualanam.

Artikel sebelumyaPresiden MPR: Pancasila-UUD NRI 1945 Menjamin Ditaatinya Hak Asasi Manusia
Artikel berikutnyaKami turun, dan lagi-lagi terjadi banjir di Palangka Raya.